Slow-Moving vs Non-Moving Stock: Cara Membedakan dan Menentukan Tindakan yang Tepat
GenziTekno.com - Pengelolaan persediaan
tidak cukup hanya memastikan barang tersedia saat dibutuhkan. Perusahaan juga
perlu menilai seberapa cepat setiap item bergerak agar modal kerja, ruang
gudang, dan biaya penyimpanan tetap terkendali. Dalam praktiknya, banyak perusahaan
masih menyamakan seluruh stok yang pergerakannya melambat, padahal slow-moving
stock dan non-moving stock menuntut respons yang berbeda. Jika
perusahaan gagal membedakannya, keputusan pembelian, promosi, dan penghapusan
stok mudah meleset.
Apa Itu Slow-Moving
Stock?
Slow-moving stock adalah
persediaan yang masih terjual atau masih bergerak, tetapi kecepatannya jauh
lebih rendah dari pola normal bisnis. NetSuite menjelaskan bahwa kategori ini
tidak memiliki batas yang benar-benar seragam karena setiap industri,
perusahaan, bahkan setiap jenis produk dapat memakai tolok ukur yang berbeda.
Dalam banyak praktik, perusahaan menggunakan acuan seperti 90, 120, atau 180
hari dengan pergerakan yang sangat rendah untuk menandai barang yang mulai
melambat.
Kondisi ini menunjukkan
bahwa barang tersebut belum kehilangan peluang sepenuhnya. Permintaan mungkin
masih ada, tetapi tidak cukup kuat untuk menjaga perputaran tetap sehat. Karena
itu, perusahaan sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai stok mati.
Langkah yang lebih tepat adalah menelusuri penyebab perlambatan, lalu
menentukan strategi percepatan yang sesuai.
Apa Itu Non-Moving
Stock?
Non-moving stock adalah
persediaan yang praktis tidak menunjukkan pergerakan dalam periode evaluasi
yang ditetapkan perusahaan. Pada tahap ini, barang biasanya tidak lagi memiliki
permintaan yang memadai, kalah relevan, melewati musim penjualan, atau
mendekati status usang. NetSuite menjelaskan bahwa persediaan umumnya bergerak
melalui beberapa tahap, mulai dari slow-moving, lalu menjadi excess
inventory, dan pada akhirnya berubah menjadi persediaan usang atau dead
stock ketika peluang jualnya terus menurun.
Artinya, non-moving
stock bukan sekadar stok yang penjualannya menurun. Kategori ini
menunjukkan bahwa barang hampir tidak lagi memberikan kontribusi terhadap
pendapatan, tetapi masih menyerap ruang, modal, dan biaya penyimpanan. Semakin
lama perusahaan menunda keputusan, semakin besar pula beban yang harus
ditanggung.
Perbedaan
Utama antara Slow-Moving dan Non-Moving Stock
Perbedaan utama terletak
pada peluang pemulihan dan jenis tindakan yang perlu diambil. Slow-moving
stock masih memiliki kemungkinan untuk dipercepat pergerakannya melalui
penyesuaian harga, promosi, relokasi stok, atau evaluasi pembelian. Sebaliknya,
non-moving stock menuntut tindakan yang lebih tegas karena barang
tersebut sudah tidak lagi bergerak secara sehat dan berpotensi menjadi beban
jangka panjang bagi perusahaan.
Dengan kata lain,
perusahaan masih dapat mengelola slow-moving stock dengan pendekatan
korektif. Namun, non-moving stock biasanya memerlukan pendekatan
pelepasan, penghentian pembelian ulang, atau penyesuaian nilai persediaan. Jika
kedua kategori ini disatukan dalam analisis yang sama, perusahaan berisiko
mempertahankan barang yang seharusnya segera dikeluarkan dari gudang atau
justru terlalu cepat melepas barang yang sebenarnya masih bisa dipulihkan.
Based on
Data: Mengapa Pemisahan Ini Penting?
Pemisahan antara slow-moving
dan non-moving stock memiliki dampak finansial yang nyata. Shopify
menyebut bahwa rata-rata peritel mengeluarkan sekitar 20% hingga 30% dari nilai
persediaannya setiap tahun untuk carrying cost. Biaya ini mencakup
penyimpanan, asuransi, depresiasi, risiko susut, dan biaya peluang dari modal
yang tertahan dalam stok. Artinya, semakin lama barang tertahan tanpa
pergerakan yang sehat, semakin besar biaya yang harus ditanggung perusahaan.
McKinsey juga menegaskan
bahwa persediaan yang membengkak dapat menekan kas dan menurunkan return on
invested capital atau ROIC. Dalam artikel mereka tentang slow-moving
inventory, McKinsey menyebut bahwa pada organisasi layanan purnajual
industri, sekitar 10% hingga 40% persediaan terdiri dari item yang bergerak
lambat. Temuan ini memperlihatkan bahwa stok lambat bukan masalah kecil,
melainkan isu operasional yang dapat melemahkan kinerja keuangan secara
langsung.
Penyebab
Umum Slow-Moving dan Non-Moving Stock
Beberapa penyebab muncul
berulang dalam banyak perusahaan. Pertama, peramalan permintaan yang tidak
akurat sering membuat perusahaan membeli terlalu banyak barang yang ternyata
tidak terserap pasar. Kedua, perubahan tren atau munculnya produk substitusi dapat
menurunkan minat pelanggan terhadap stok yang sebelumnya masih relevan. Ketiga,
keputusan pembelian yang tidak selaras dengan data penjualan dapat membuat stok
terus bertambah meskipun pergerakannya sudah melemah.
Selain itu, masalah ini
juga sering muncul karena kurangnya evaluasi berkala atas umur persediaan dan
rasio perputaran stok. NetSuite menjelaskan bahwa tren inventory turnover
dapat membantu perusahaan mendeteksi item yang mulai melambat maupun barang
yang mendekati status usang. Tanpa evaluasi tersebut, perusahaan cenderung
terlambat mengenali barang yang seharusnya segera ditangani.
Tindakan
yang Tepat untuk Slow-Moving Stock
Perusahaan sebaiknya
menangani slow-moving stock dengan pendekatan perbaikan, bukan pelepasan
langsung. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menelaah histori
penjualan, pola musiman, cabang dengan permintaan tertinggi, serta status
pesanan pembelian yang masih berjalan. Setelah itu, perusahaan dapat menurunkan
atau menghentikan sementara replenishment, memindahkan stok ke lokasi
dengan permintaan lebih baik, membuat promosi terbatas, atau menyusun paket
penjualan agar perputaran meningkat.
Tujuan utama dari langkah
tersebut adalah mempercepat pergerakan barang sebelum stok turun ke kategori
yang lebih bermasalah. Pendekatan ini membantu perusahaan melindungi margin,
mengurangi biaya simpan, dan menjaga kualitas keputusan pembelian berikutnya.
Tindakan
yang Tepat untuk Non-Moving Stock
Untuk non-moving stock,
perusahaan perlu mengambil keputusan yang lebih tegas. Prioritas pertama adalah
menghentikan pembelian ulang atas item yang sama. Setelah itu, perusahaan dapat
memilih salah satu strategi pelepasan, seperti diskon besar, bundling agresif,
likuidasi, atau donasi jika kondisi barang masih layak. Jika barang sudah tidak
bisa dijual atau nilainya turun secara material, tim keuangan perlu
mempertimbangkan write-down atau write-off sesuai kebijakan
akuntansi yang berlaku.
Langkah tegas ini penting
karena menyimpan barang yang tidak bergerak terlalu lama hanya akan memperbesar
biaya dan menciptakan gambaran aset yang kurang sehat. Secara operasional,
barang tersebut memakan ruang. Secara finansial, barang tersebut menahan modal
yang seharusnya dapat dialihkan ke item dengan perputaran lebih baik.
Gunakan
Laporan, Bukan Perkiraan
Keputusan terkait stok
lambat sebaiknya tidak bergantung pada asumsi. Perusahaan perlu menggunakan
laporan umur persediaan, histori penjualan per SKU, klasifikasi FSN, dan
rasio inventory turnover untuk membedakan barang yang masih dapat
dipulihkan dari barang yang sudah tidak layak dipertahankan. Analisis seperti
ini membantu tim gudang, purchasing, dan manajemen mengambil keputusan yang
lebih objektif.
Semakin kompleks jumlah
SKU, gudang, dan cabang, semakin besar pula kebutuhan akan sistem inventaris
yang mampu menampilkan data pergerakan stok secara konsisten. Dengan dukungan
laporan yang tepat, perusahaan dapat menahan pembelian yang tidak perlu, mempercepat
penanganan barang lambat, dan mencegah akumulasi persediaan yang tidak
produktif.
“Masalah persediaan bukan
hanya soal stok menumpuk, tetapi soal memahami pola pergerakan setiap item.
Ketika analisis tidak akurat, keputusan pembelian dan pelepasan stok pun ikut
meleset.” - Jessica
Wijaya (Senior Content Writer)
Kesimpulan
Slow-moving stock dan non-moving
stock sama-sama menunjukkan masalah dalam pergerakan persediaan, tetapi
keduanya tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Slow-moving stock
masih dapat dipercepat melalui evaluasi permintaan, relokasi, promosi, atau
penyesuaian pembelian. Sementara itu, non-moving stock memerlukan
keputusan yang lebih tegas, seperti penghentian pembelian ulang, pelepasan
stok, atau penyesuaian nilai persediaan.
Semakin cepat perusahaan memisahkan kedua kategori ini, semakin cepat pula perusahaan melindungi kas, kapasitas gudang, dan efisiensi modal kerja. Menunda evaluasi hanya akan membuat biaya persediaan terus meningkat tanpa memberi nilai tambah yang sepadan.

Posting Komentar